LAPORAN
PRAKTIKUM
KIMIA ANALISIS I
PERCOBAAN I
REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG
MENGANDUNG C, H, O, N
OLEH
:
NAMA : WA ODE SARMIMIN
NIM : F1F1 12 045
KELOMPOK : V (LIMA)
KELAS : A
ASISTEN : ASTRI WIDYASTUTI
JURUSAN
FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA
YANG MENGANDUNG C, H, O,
N
A.
TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
reaksi-reaksi khusus senyawa yang mengandung unsur C, H, O, N.
B.
LANDASAN
TEORI
Analisis
kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies,
dan/atau senyawa-senyawa yang ada dalam suatu sampel. Analisis kualitatif
berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada tidaknya suatu analit yang dituju
dalam suatu sampel. Sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis untuk
menentukan jumlah (kadar) absolut atau relatif dari suatu elemen atau spesies
yang ada di dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007).
Salisilamida adalah turunan dari salisilat yang
efeknya lebih lemah dari salisilat itu sendiri dan merupakan obat analgetik dan
antipiretik. Secara oral, salisilamida cepat diabsorbsi dan segera
didistribusikan. Salisilamida mengalami proses eliminasi lintas pertama di
gastro intestinal dan di hepar sebesar 80%. Akibatnya, obat yang tersedia di
dalam darah sangat kecil dan dapat mengurangi efek farmakologinya (Darmawan,
2003).
Selain
salisilamida, obat antipiretik dan analgesic adalah parasetamol. Obat
antipiretik adalah obat-obat yang dapat menurunkan demam. Dalam penggunaan
jangka panjang dan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati dan pendarahan
saluran cerna (Widyaningsih dkk, 2009).
Parasetamol adalah salah satu obat analgesic
dan antipiretik yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Parasetamol mempunyai
dosis yang berbeda sesuai bentuk sediaannya seperti tablet, kapsul, suspense,
sirup, elixir, dan suppositoria. Asetaminofen pada umumnya, disajikan dalam
bentuk tablet 500 mg yang diformulasi dengan senyawa aktif sebagai zat
tambahan. Penggunaan parasetamol dapat dikombinasikan dengan senyawa lain
seperti kafein (Tsvetkova, 2012).
Parasetamol
bekerja dengan menghambat system siklooksigenase yang menyebabkan asam-asam C20
tak jenuh lainnya menjadi endoperoksida siklik. Endoperoksida siklik
merupakan prazat dari prostaglandin. Prostaglandin adalah zat yang terlibat
dalam terjadinya nyeri dan demam serta reaksi-reaksi radang . parasetamol
dimetabolisme oleh tubuh terutama dalam hati, sebagian dikonversi menjadi
campuran non-aktif oleh proses konjugasi dengan sulfat dan glukuromida, yang
kemudian dikeluarkan oleh ginjal. Parasetamol menghasilkan metabolit minor
yaitu N-asetil-P-benzokuinon yang bersifat sangat aktif jika dalam dosis besar
sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan ginjal. Jika dalam jumlah
kecil, metabolit minor dapat dieksresikan melalui ginjal (Rachdiati dkk, 2008).
C.
ALAT
DAN BAHAN
1.
Alat
Alat
yang digunakan pada percobaan ini, yaitu :
·
Tabung reaksi
·
Gelas kimia
·
Neraca analitik
·
Mortir dan alu
·
Filler
·
Pipet tetes
·
Spatula
·
Batang pengaduk
·
Gegep
·
Botol semprot
2.
Bahan
Bahan
yang digunakan pada percobaan ini, yaitu :
·
Salisilamida dalam
sampel
·
Parasetamol murni
·
Parasetamol dalam
sampel
·
FeCl3 (Besi
III Klorida)
·
NaOH 3N (Natrium
Hidroksida)
·
HNO3 (Asam
Nitrat)
·
Aquades
D.
URAIAN
BAHAN
1)
Salisilamida (Dirjen
POM, 1979)
Nama :
Salicylamidum
Sinonim : Salamida
Berat Molekul :
137, 14
Rumus Molekul : C7H7NO2
Pemerian :
Serbuk hablur; putih; hampir tidak berbau
Kelarutan : Sukar larut dalam air; larut dalam etanol (95 %) P dan dalam propilenglikol
P; agak sukar larut dalam kloroform P
dan dalam eter P; mudah larut dalam
larutan alkali.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai sampel, Analgetikum
2)
Parasetamol (Dirjen
POM, 1979)
Nama
: Parasetamol
Sinonim
: Acetaminophenum
Berat
Molekul : 151, 16
Rumus
Molekul : C8H9NO2
Pemerian
: Hablur atau serbuk hablur
putih; tidak berbau; rasa pahit
Kelarutan
:
Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95 %) P, dalam 13 bagian aseton P,
dalam 40 bagian gliserol P dan dalam
9 bagian propilengikol p; larut dalam
larutan alkali hidroksida.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik,
terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai sampel dan penguji, analgetikum
dan antipiretikum
3)
Aquades (Dirjen POM,
1979)
Nama
: Aqua Destilata
Sinonim
: Air suling
Berat
Molekul : 18,02
Rumus
Molekul : H2O
Pemerian
: Cairan jernih, tidak
berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: sebagai zat tambahan
4)
Besi (III) klorida
(Dirjen POM, 1979)
Nama :
Besi (III) Klorida
Rumus
Molekul : FeCl3
Pemerian
: Hablur atau serbuk hablur;
hitam kehijauan, bebas warna jingga dari
garam hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan
: Larut dalam air, larutan
beropalesensi berwarna jingga.
Kegunaan
: Sebagai penguji
5)
Natrium Hidroksida
(Dirjen POM, 1979)
Nama
: Natrii Hydroxydum
Sinonim
: Natrium Hidroksida
Berat
Molekul : 40,00
Rumus
Molekul : NaOH
Kegunaan
: Sebagai penguji
Pemerian
: Bentuk batang, butiran,
masa hablur atau keping, kering, keras,
rapuh dan menunjukkan sususnan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat
alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan
etanol (95 %) P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
:
Sebagai penguji
6) Asam
Nitrat (Dirjen POM, 1979)
Nama
: Asam Nitrat
Rumus
Molekul : HNO3
Pemerian
: Cairan berasap, jernih,
tidak berbau
Kelarutan :
Mengandung tidak kurang dari 69,0 % dan tidak lebih dari 71,0 % HNO3.
Kegunaan :
Sebagai penguji
E.
PROSEDUR
KERJA
1.
|
Salisilamida
dalam sampel
|
-
digerus sampai halus
-
ditimbang sebanyak 1 mg
-
dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
-
dilarutkan dalam 10 ml aquades
-
ditambahkan 1 tetes
FeCl3
-
diamati perubahan
warnanya
Berwarna Ungu
2.
Turunan Anilin
a.
|
Parasetamol
murni
|
-
digerus sampai halus
-
ditimbang sebanyak 1 mg
-
dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
-
dilarutkan dalam 10 ml aquades
-
ditambahkan 1 tetes
FeCl3
-
diamati perubahan
warnanya
Berwarna biru violet
b. Parasetamol
murni + NaOH 3N + HNO3
|
Parasetamol
murni
|
-
digerus sampai halus
-
ditimbang sebanyak 10
mg
-
dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
-
dilarutkan dalam 10 ml aquades
-
ditambahkan 1 ml NaOH
3N
-
ditambahkan 1 ml HNO3
-
diamati perubahan
warnanya
bening
c.
Parasetamol dalam
sampel + FeCl3
|
Parasetamol
dalam sampel
|
-
digerus sampai halus
-
ditimbang sebanyak 10
mg
-
dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
-
dilarutkan dalam 10 ml aquades
-
ditambahkan 1 tetes
FeCl3
-
diamati perubahan
warnanya
Berwarna biru violet
d. Parasetamol
dalam sampel + NaOH 3N + HNO3
|
Parasetamol
dalam sampel
|
-
digerus sampai halus
-
ditimbang sebanyak 10
mg
-
dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
-
dilarutkan dalam 10 ml aquades
-
ditambahkan 1 ml NaOH
3N
-
ditambahkan 1 ml HNO3
-
diamati perubahan
warnanya
Bening
F.
HASIL
PENGAMATAN
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
Turunan
Salisilat
Salisilamida
dalam sampel + FeCl3
Turunan
Anilin
a. Parasetamol
murni
-
Ditambah FeCl3
-
Ditambah NaOH 3 N +
HNO3
b. Parasetamol
dalam sampel
-
Ditambah FeCl3
-
Ditambah NaOH 3 N +
HNO3
|
Berwarna
ungu tua
Berwarna
ungu muda dan ada endapan putih
Bening
Kuning
keruh
Bening
|
Analisis kualitatif
merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia dalam
cuplikan yang tidak di ketahui. Analisis kualitatif
berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang
dituju dalam suatu sampel, yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna,
terbentuk endapan dan bau. Pada percobaan ini, dilakukan identifikasi adanya
unsur C, H, O, N dalam suatu senyawa obat baik yang murni maupun dalam sampel
yang ditandai dengan terjadinya
reaksi-reaksi khusus. pengidentifikasian unsur-unsur tersebut berperan
dalam mengidentifikasi unsur-unsur penyusun obat sehingga memudahkan untuk
mengetahui indikasi atau kegunaan obat pada tubuh manusia. Sampel obat yang digunakan
pada percobaan ini yaitu salisilamida dan parasetamol.
Salisilamida (C7H7NO2)
adalah turunan dari salisilat yang efeknya lebih lemah dari salisilat itu
sendiri dan merupakan obat analgetik dan antipiretik. Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang populer yang digunakan untuk melegakan sakit kepala
dan penurun demam. Rumus kimia
parasetamol adalah C8H9NO2. Salisilamida
dan parasetamol cocok digunakan dalam percobaan dimana
percobaan ini untuk mengamati reaksi senyawa yang mengandung unsur C, H, O, dan
N.
Pada percobaan
ini, obat yang pertama diidentifikasi yaitu
salisilamida. Salisilamida yang diidentifikasi merupakan salisilamida yang
terdapat dalam suatu sampel obat. Salisilamida diambil dan digerus hingga
menjadi serbuk. Lalu sebanyak 1 mg dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
dilarutkan serta ditambahkan dengan 1 tetes FeCl3. Diaduk dengan
batang pengaduk agar dapat bercampur sempurna. Hasil reaksi yang terjadi akibat
penambahan FeCl3 adalah perubahan warna menjadi warna ungu. Hal ini menandakan
terjadi pembentukan senyawa kompleks pada reaksi tersebut. Hasil reaksi yang
menunjukkan perubahan warna ini menunjukkan bahwa adanya unsur C, H, O, N dalam
salisilamida tersebut.
Perlakuan identifikasi
kedua yaitu pada obat parasetamol. Parasetamol yang digunakan pada percobaan
ini yaitu parasetamol murni dan parasetamol dalam sampel. Parasetamol murni
berbentuk serbuk, sebanyak 1 mg dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
dilarutkan dengan 10 ml aquades, ditambahkan dengan 1 tetes FeCl3.
Hasil reaksi yang terjadi adalah perubahan warna menjadi biru violet. Perlakuan yang sama dilakukan pada parasetamol
dalam sampel yang digerus sampai halus. Setelah penambahan 1 tetes FeCl3 Hasil reaksi
yang terjadi adalah perubahan warna menjadi biru violet. Perubahan warna yang
terjadi pada sampel menandakan adanya unsur C, H, O, N pada parasetamol baik
yang murni maupun dalam sampel obat.
Perlakuan pada
parasetamol murni dan parasetamol pada sampel diatas, diulangi dengan
penambahan larutan NaOH dan HNO3. Berdasarkan hasil pengamatan pada
perlakuan parasetamol murni dan parasetamol pada sampel, hasil reaksi
yangterjadi yaitu tidak ada perubahan (larutan bening). Hal ini menandakan tidak
adanya unsur C,H,O,N.
Pada penambahan parasetamol murni dengan FeCl3
terjadi perubahan warna yang jelas. Sedangkan pada penambahan parasetamol dalam
sampel dengan FeCl3 terjadi perubahan warna. Hal ini disebabkan
karena pada parasetamol murni yang ditambahkan FeCl3 mengalami perubahan
warna yang jelas masih bersifat murni tanpa ada zat tambahan lainnya sedangkan
parasetamol dalam sampel sudah bercampur dengan zat tambahan lainnya.
H.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan,
dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan metode analisis kualitatif dapat
diketahui reaksi-reaksi khusus senyawa yang mengandung unsur C, H, O, N dengan
penambahan reagen tertentu yang ditandai perubahan warna.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan,
Endang, 2003, Pengaruh Pemberian Merica Putih (Piperis album, L) dan Piperin Terhadap Ketersediaan Hayati Salisilamida
Pada Tikus, Logika, Vol. 9, No. 10, Yogyakarta.
Dirjen
POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi
III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Gandjar,
Ibnu Gholib dan Abdul Rohman, 2007, Kimia
Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. (Hal. 1)
Rachdiati,
Henny, dkk, 2008, Penentuan Waktu Kelarutan Parasetamol Pada Uji Disolusi, Jurnal Nusa Kimia, vol. 8, no. 1, UNB.
Tsvetkova,
Boyka, dkk, 2012, Validated LC Method For Simultaneous Analysis Of Paracetamol
And Caffeine In Model Tablet Formulation, International
Journal of Pharmacy Andpharmaceutical Science, vol. 4, suppl. 4, Bulgaria.
Widyaningsih,
wahyu, dkk, 2009, Efek Antipiretik Dari Fraksinasi Ekstrak Etanol Batang
Brotowali (Trinospora crispa, L) Pada
Tikus Putih Jantan Galur Wistar, Media
Farmasi, vol. 8, no. 1,
Yogyakarta.